Gurihnya Wader Goreng Waduk Gajah Mungkur



Ikan wader goreng telah menjadi ikon wisata Waduk Gajah Mungkur. Karena itulah, hal ini mendatangkan keuntungan tersendiri bagi para warga yang berjualan ikan ini di sekitar waduk.




Mendung tipis yang berarak di atas kawasan Waduk Gajah Mungkur Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sedikit mengurangi panasnya udara di sekitar tempat itu.  Sinar matahari yang begitu terik, memang membuat kawasan waduk Gajah Mungkur terasa begitu panas. Sehingga hal ini memaksa beberapa pengunjung untuk memilih duduk berdiam di bawah rinfangnya pepohonan yang tumbuh di sana.

Waduk Gajah Mungkur memang menjadi salah satu tempat wisata favorit di wilayah Kabupaten Wonogiri. Karenanya tak kurang dari 100 ribu pengunjung datang untuk menikmati keindahan panorama waduk, di tiap hari libur. Dan banyak di antara mereka yang datang dari luar kota. Ini karena ada banyak panorama yang ditawarkan di komplek waduk yang mulai beroperasi sejak tahun 1978 itu.

Dan tak hanya menikmati keindahan panorama alam, di waduk yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto itu. Satu hal yang juga tidak dilewatkan oleh para pengunjung obyek wisata ini adalah menikmati kuliner khasnya. Yaitu ikan wader goreng.

Jajaran kios penjual ikan wader goring akan terlihat menjadi penghias ruas jalan di komplek waduk ini. Dan hal itu seolah menjadi cirri khas tersendiri bagi waduk ini. Sehingga bagi para pengunjung waduk Gajah Mungkur, akan terasa ada yang kurang saat datang ke sana, tanpa membeli oleh-oleh ikan wader goreng. Karena itulah, tak hanya di dalam komplek obyek wisata Waduk Gajah Mungkur saja, para penjual ikan wader goreng juga bisa ditemui di sepanjang ruas jalan menuju ke obyek wisata ini.

Wader goreng memang menjadi salah satu ikon wisata di Waduk Gajah Mungkur, karena ikan yang hanya mampu tumbuh sebesar jari kelingking ini banyak ditemukan di dalam waduk. Ikan yang hidup secara berkelompok ini tiap saat akan ditangkap oleh warga sekitar, untuk kemudian diolah menjadi wader goreng yang gurih dan renyah.


Mbak Tarni, seorang penjual ikan wader goreng yang ada di dalam komplek waduk mengatakan, bahwa dirinya bisa menjual hingga lebih dari 5 kg ikan per hari saat masa liburan. Yang tentunya bisa mendatangkan keuntungan besar bagi para penjual ikan ini.

“Harga per kilonya ada yang Rp. 50.000 ada yang Rp. 60.000 tergantung kualitas ikannya. Selain beli dalam jumlah besar, umumnya pengunjung kalau beli rata-rata seperempat kilo. Jadi bisa dinikmati sambil jalan-jalan,” jelasnya kepada Kla6news.blogspot.com sembari melayani para pembelinya.

Selain menjual wader goreng, beberapa pedagang juga menyediakan udang, ikan nila serta patin goreng. Yang mana tak hanya bisa dinikamsti sebagai camilan, tapi juga bisa dijadikan sebagai menu makan siang. Sebab beberapa kios juga tampak menyediakan menu pelengkap bagi mereka yang mau sekalian singgah dan istirahat.

“Kalau memang mau dimakan pakai nasi, ada warung yang menyediakannya. Sehingga di sana bisa sekalian istirahat dan makan siang. Tapi kalau saya lebih memilih jual ikannya saja. Karena lebih simple. Cukup dengan kios kecil seperti ini,” tambahnya sembari mengatakan bahwa dia sudah berjualan lebih dari 10 tahun.

Keuntugan yang terbilang cukup besar memang menjadi alas an dari warga di sekitar waduk memilih menjadi penjual wader goring. Ada yang mendapatkan ikan itu dengan cara membeli, tapi banyak juga yang langsung mencarinya di waduk. Sehingga keuntungan mereka akan semakin besar. Sebab populasi berbagai ikan di waduk ini terbilang sangat besar.

Karena itulah, di beberapa sisi waduk akan terlihat sekumpulan orang yang tengah asyik memancing atau menjaring ikan. Tak hanya warga di sekitar waduk, mereka juga banyak yang datang dari daerah di luar Wonogiri. Dan yang menarik, tak hanya siang, para pemancing di kawasan Waduk Gajah Mungkur juga bisa dengan mudah ditemui pada malam hari.

Jumali misalnya, pemancing asal Kampung Giriwono ini mengatakan bahwa hampir tiap hari dia memancing di waduk. Dan tak jarang juga melakukannya pada malam hari. Bahkan menuruitnya, kalau malam dia bisa lebih mudah mendapatkan ikan. Dan ikan-ikan itu biasanya langsung dibeli oleh para pedagang ikan goring di komplek waduk. Karena itulah, pria 55 tahun ini begitu betah dnegan salah satu profesi sampingannya itu. Karena selain menjalankan hobi, dia juga bisa dapat uang.

“Sebenarnya kalau dihitung-hitung, hasil penjualannya tidak sebarapa, Mas. Lha wong modal kita buat mancing aja sudah besar. Tapi namanya juga hobby. Jadi anggap aja uang itu untuk pengganti rokok dan makan,” ungkap Jumali yang mengaku bisa mengeluarkan modal untuk umpan antara 100 hingga 150 ribu tiap kali memancing. Dan kemudian hanya menjual ikannya rata-rata seharga 50 ribu.

Sedangkan untuk ikan wader sendiri, biasanya akan didapat dari warga yang memang mengkhususkan diri sebagai nelayan pencari wader. Biasanya dia menggunakan perahu untuk menyisir kawasan-kawasan tertentu di waduk, yang selama ini dikenal sebagai sarang wader. Dan dengan menggunakan jala, mereka bisa menangkap berkilo-kilo ikan wader, untuk kemudian dijual per kg seharga 25-30 ribu rupiah.

Ikan-ikan wader dari para nelayan ini lantas dicuci bersih dan dcampur bumbu serta tepung, untuk kemudian langsung digoreng di depan para pengunjung. Sehingga dengan demikian, pengunjung bisa langsung merasakan gurihnya ikan wader segar yang digoreng, sembari menikmati semilir angin di kawasan waduk ini. /