Pasang Badan untuk Prabowo, Para Budayawan Sampaikan Surat Terbuka Merah Putih



Berbagai keterpurukan yang terjadi di negeri ini, membuat beberapa bjdayawan berpikir bahwa isi pidato Prabowo tentang naaib Indonesia tahun 2030, bisa benar-benar terjadi. Karena itu mereka menggelar aksi untuk membangkitkan semangat kebangsaan, demi lepas dari berbagai masalah pada bangsa ini.


Polemik terkait isi pidato Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang mengatakan bahwa di tahun 2030 bangsa Indonesia akan hilang, terus menuai reaksi. Tak hanya mendapat reaksi negatif, yang mengatakan bahwa Prabowo terlalu gegabah. Karena isi pidatonya hanya didasarkan pada cerita fiksi, yang ada dalam novel Ghost Fleet. Sehingga dianggap hanya menebar ketakutan dan keputus asaan di kalangan anak bangsa. Reaksi positif yang bersifat dukungan, ternyata juga muncul.

Dan hal ini dilakukan oleh sejumlah budayawan yang dipimpin oleh Sri Eko Sapta Wijaya atau yang akrab disapa Eko Galgendu. Di mana bersama beberapa budayawan yang tergabung dalam Ikatan Kebangsaan dan Bela Negara. Eko menggelar aksi yang diberi nama Surat Terbuka Merah Putih untuk Prabowo Subianto dan Bangsa Indonesia, pada Selasa (27/3) sore.

Ya. Aksi yang digelar di komplek Tugu Lilin Penumping, Surakarta ini memang diisi pidato dari Eko, yang membacakan surat darinya. Dan berbeda dengan surat terbuka yang pada umumnya ditujukan untuk mengkritisi seseorang, surat dari Eko ini justru bersifat dukungan terhadap apa yang disampaikan Prabowo. Karena menurutnya, terlepas dari berbagai motivasi di balik isi pidato itu, kita perlu berpikir obyektif, bahwa apa yang disampaikan Prabowo tudak sepenuhnya salah. Ada nilai-nilai peringatan yang harus ditanggapi secara positif, agar ke depan bangsa ini bisa jadi lebih baik.

"Saya melihat bahwa Pak Prabowo memiliki visi yang jauh ke depan. Sehingga beliau berani mengatakan sepeeti itu. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah telah mencatat banyak negara-negara besar yang telah hilang dan tinggal nama. Mataram, Majapahit, Singosari, Sriwijaya atau yang lainnya. Yang mana semua terjadi karena adanya kemunduran besar dalam sistem pemerintahan waktu itu. Dan bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi pada bangsa ini, bila tidak segera diperbaiki," jelas Eko kepada depthINFO.com.
Eko Galgendu (tengah) membacakan surat terbuka untuk Prabowo di komplek Tugu Lilin

Karena itulah, Eko juga menyatakan bahwa dirinya berani pasang badan untuk membela Prabowo. Guna menjelaskan terkait apa yang terjadi pada bangsa ini, seperti yang digambarkan oleh Prabowo. Dan hal itu kemudian diwujudkan dalam bentuk surat terbuka, yqng dibacakan di komplek bangunan bersejarah Tugu Lilin Penumping.

Komplek tugu lilin dipilih tak lepas dari nilai historis yang melekat di baliknya. Di mana tugu yang dibangun sebagai peringatan 25 tahun hari kebangkitan nasional itu, merupakan tempat yang diyakini mampu memotivasi semangat kebangsaan untuk menuju ke kondisi bangsa yang lebih baik. Karena itulah, tiap tahun di tempat ini selalu digelar upacara khusus, untuk memperingati hari kebangkitan nasional.

Pembangunan tugu lilin Penumping sendiri diprakarsai oleh seorang tokoh asal Solo yang juga Ketua Parindra (Partai Indonesia Raya), bernama Woerjaningrat, pada 20 Mei 1933. Bahkan demi mengumpulkan energi persatuan, dia mengumpulkan tanah dari berbagai pelosok anah air, untuk dijadikan pondasi bangunan itu. Hingga akhirnya bangunan yang berbentuk lilin dengan nyala api berwarna merah itu, mampu mengibarkan semangat juang rakyat Indonesia, untuk meraih kemerdekaan.

"Apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo adalah wujud keberanian dan kejujuran yang tidak dimiliki semua orang. Jadi hal ini harus kita hargai, untuk meningkatkan motivasi dan semangat kebangsaan. Demi tetap terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Dan hal ini akan kita sampaikan ke seluruh wilayah Indonesia," pungkas Eko. //Sik