Heboh! Terjadi Kiamat di Gunung Lawu Jelang Puasa


Banyaknya ayam yang dikorbankan dalam tradisi sadranan di lereng Gunung Lawu, membuat orang menyebut tradisi ini dengan nama kiamat pitik atau kiamat ayam.


CITRO WIYONO dan beberapa warga Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah berjalan perlahan memasuki komplek pemakaman Banyu Biru di desa itu. Rendaman bunga setaman dalam sebuah stoples, terlihat dijinjing para warga, bersama sebuah bungkusan kain berukuran besar.

Begitu sampai di tengah komplek pemakaman yang berada di lereng Gunung Lawu itu, para warga bergegas menuju ke jajaran batu nisan yang terhampar di sana. Satu persatu mereka duduk tertunduk sambil berdoa dengan khusyu, di tepi batu nisan. Untaian doa terpanjat saling bersahutan. Hingga suasanapun terasa begitu sakral, terlebih setelah kabut turun menyelimuti kawasan itu.

“Hari ini kita nyadran. Ini tradisi turun temurun jelang bulan puasa  Kalau bungkusan ini isinya makanan untuk selamatan. Orang sini meneyebut dengan istilah panggang bucu. Isinya ayam panggang lengkap dengan lauk tahu dan tempe goreng serta srundeng. Nanti semakin siang, warga yang datang akan semakin banyak dan makam akan padat peziarah,” jelas Citro Wiyono, yang juga sesepuh Desa Anggrasmanis usai berdoa di makam leluhurnya.

Tepat pada tanggal 15 bulan Ruwah atau Sya’ban, sebagian besar masyarakat Jawa memang menjalankan tradisi nyadran. Yaitu berziarah ke makam para leluhur sembari mengadakan selamatan. Dan khususnya untuk masyarakat lereng Gunung Lawu, tumpeng bucu adalah syarat yang harus dibawa dalam selamatan itu.

Sesaji Khusus
Tak hanya satu panggang bucu, banyak warga yang membawa hingga lima dan bahkan sepuluh nasi tumpeng dengan lauk ayam panggang utuh ini.  Hal itu menurut Citro Wiyono disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang dimakamkan di pemakaman tersebut.
Warga membawa sesaji tumpeng dan ayam panggang (panggang bucu) dalam ritual nyandran

“Makanan ini sebenarnya hanya simbolisasi persembahan kita kepada keluarga yang sudah meninggal. Yang kita berikan setahun sekali, sebagai upaya mengingat jasa dan budi mereka semasa masih hidup. Tapi bukan berarti makanan ini kita berikan secara fisik kepada mereka. Sebab semua makanan ini akan kita makan bersama-sama usai didoakan,” terangnya.

Bahkan karena begitu banyaknya sesaji ayam panggang yang disediakan warga, masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu juga menyebut tradisi sadranan itu sebagai ritual kiamat pitik atau kiamat ayam. Hal ini merujuk pada banyaknya ayam kampung yang harus dipotong untuk diolah menjadi ayam panggang. Yang mana pelaksanaannya terjadi pada hari yang sama, yaitu tanggal 15 Ruwah.

“Dalam satu hari ini kalau dihitung bisa ribuan ayam dipotong untuk selamatan. Sebab yang mengadakan tradisi seperti ini tidak hanya di sini (pemakaman Banyu Biru), tapi di seluruh desa yang berada di sekitar lereng Lawu bagian atas ini. Dan hal itu sudah menjadi tradisi dari nenek moyang, yang sampai saat ini tetap kita pegang,” ungkap Citro.

Penggunaan ayam panggang sebagai sesaji menurut Citro juga bukan tanpa alasan. Sebab bagi orang-orang yang sudah meninggal, mereka secara fisik tidak akan memakan apapun yang berwujud fisik. Yang mereka makan selama ini hanya sebatas bau-bauan. Karena itulah bunga serta wangi-wangian selalu menjadi pilihan untuk sesaji.

Sedangkan ayam panggang menurut Citro adalah jenis makanan yang juga mengeluarkan aroma khas, yang konon disukai oleh para arwah. Sebab dalam proses pemasakannya, daging ayam dijerang di atas bara api hingga cairannya menguap dan dagingnya menjadi kesat dan cenderung kering. Nah uap daging inilah yang konon menjadi makanan bagi arwah para leluhur.

“Ayam ini tidak dibakar tetapi dipanggang. Jadi tidak hangus, tapi dagingnya jadi kesat karena menguap. Dan uap itulah yang katanya jadi makanan arwah keluarga kita yang sudah meninggal. Jadi di saat menjelang bulan puasa ini, mereka juga ikut merasakan kegembiraan menikmati sajian dari para keluarganya yang masih hidup,” ujar pria 70 tahunan ini..

Tradisi kiamat ayam ala masyarakat lereng Gunung Lawu adalah salah satu bentuk tradisi nyadran atau sadranan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Yang memang dikenal memiliki tradisi adiluhung untuk mengenang para leluhurnya. Karena bagi masyarakat Jawa, para leluhur memiliki peran yang sangat besar dalam ikut mewarnai perjalanan hidup yang saat ini dijalani seseorang. Sehingga serangkaian bentuk tradisi tercipta sebagai upaya masyarakat untuk mengenang para leluhurnya.

Nyadran menjadi satu tradisi utama yang diciptakan masyarakat Jawa untuk mengenang leluhur mereka. Dan bulan Ruwah menjadi bulan yang dipilih untuk pelaksanaan tradisi ini. Sebab konon pada bulan inilah arwah dari para leluhur akan pulang, sehingga ada semacam tuntunan bagi yang masih hidup untuk menjamu kedatangan mereka.

Warisan Nenek Moyang
Tradisi nyadran sendiri bukanlah tradisi yang baru di masyarakat. Tradisi ini sudah berkembang sangat lama, terutama pada masa Hindu Jawa. Dan karena masih ada masyarakat pendukungnya, maka tradisi itu tetap bertahan hingga saat ini.
Kiamat pitik menjadi tradisi tahunan warga lereng Gunung Lawu jelang bulan puasa

Selain beragam jenis makanan yang kemudian dimakan bersama-sama, bunga juga menjadi sarana pelengkap yang tidak bisa ditinggalkan. Sebab bunga diyakini sebagai penyambung tali rasa antara orang yang masih hidup dnegan leluhur mereka yang telah tiada.

Dalam upacara sraddha yang digelar untuk mengenang mendiang Ratu Tribuwana Tunggadewi, Prabu Hayam Wuruk juga menyajikan rangkaian bunga yang dibentuk seperti perahu guna mengantar arwah sang ibu menuju tempat peristirahatan abadinya.

Upacara sraddha memang diyakini sebagai cikal bakal munculnya tradisi nyadran di masyarakat Jawa.  Ritual ini dilakukan sebagai penghormatan pada leluhur yang telah meninggal. Dalam upacara itu serangkaian uba rampe dan berbagai macam bunga disediakan sebagai bagian dari prosesi upacara.

Bunga dipakai karena merupakan symbol dari perasaan cinta serta kasih sayang. Sehingga dalam hal ini bisa diartikan bahwa dengan memberikan bunga, maka berarti rasa cinta itu tidak akan pernah putus, meski seseorang yang kita tuju telah meninggal.

Dari situlah kemudian tradisi ini terus berkembang. Masyarakat mulai banyak yang mengikutinya hingga kemudian tetap terjaga hingga saat ini. Bahkan saat agama Islam mulai masuk dan berkembang di tanah Jawa, tradisi ini juga tetap dilakukan. Semua tak lepas dari upaya para wali untuk menarik hati umat, yang salah satu caranya dnegan mengakulturasi beberapa tradisi yang telah berkembang lebih dulu. Salah satunya adalah nyadran.

Dalam ritual nyadran, seseorang akan dituntun untuk selalu ingat terhadap kematian. Sehingga hal tersebut bisa mendorongnya untuk selalu melakukan introspeksi diri agar tidak menambah dosa dan kesalahan dalam hidupnya. Sehingga akan banyak bekal hidup yang diperoleh guna menyambut datangnya kematian suatu saat nanti.

Hal tersebut sangat tepat dilakukan terutama menjelang datangnya bulan puasa. Sebab dalam bulan puasa tersebut, upaya introspeksi akan benar-benar bisa dilakukan dnegan maksimal. Sehingga tujuan akhir berupa penghapusan segala bentuk dosa bisa tercapai.

Tak hanya sebatas bertujuan untuk introspeksi, oleh sebagian orang Ruwahan juga diyakini sebagai ajang mencari berkah. Sebab kehadiran para leluhur yang turun ke dunia di bulan tersebut, merupakan momentum yang tepat bagi anak turunnya untuk memohon petunjuk dan berkah terkait dengan apa yang harus dilakukan di masa mendatang, agar bisa meraih kesuksesan.

Dan hal ini bukan isapan jempol. Karena sebagaian besar para pelaku ritual ruwahan memang berkeinginan agar kehidupannya ke depan menjadi lebih baik, usai menjalankan tradisi tersebut. Dalam hati mereka tertanam keyakinan bahwa para leluhur akan membalas apa yang mereka sajikan dalam ritual itu. //Rad