Mengenang Suprapto Suryodarmo: Menari karena Dorongan Jiwa


Bagi Suprapto Suryodarmo seni bisa mendatangkan kebaikan untuk alam semesta.

WARTAJOGLO, Karanganyar - Lantunan tembang kidung Sudamala, mengiringi gerak gemulai Suprapto Suryodarmo bersama seorang perempuan paruh baya, yang membawakan tarian sakral Kerobyongan Sudamala. Di tengah guyuran hujan gerimis serta cengkeraman udara dingin lereng Gunung Lawu, pria 70 tahunan ini tampak dengan khusyu membawakan tarian ciptaannya itu, di pelataran Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Ya, di kalangan seniman Solo dan bahkan luar negeri, nama Mbah Prapto, demikian sapaan akrab Suprapto Suryodarmo, memang telah banyak dikenal. Sebab dirinya kerap menggelar berbagai pertunjukan seni, yang melibatkan  banyak seniman dari dalam dan luar negeri.

Salah satu aktifitas seni yang selalu digelar adalah Srawung Candi. Yang pelaksanaannya bertepatan dengan datangnya tahun baru. Di sini Mbah Prapto dan beberapa muridnya serta seniman yang lain, menampilkan sebuah karya gerak bernuansa spiritual. Sebagai bagian dari penyambutan harapan baru, bersama dengan datangnya tahun baru.

Foto: Ist
Jenazah Mbah Prapto saat disemayamkan di Thiong Ting

Namun sayang, jelang pergantian tahun 2019 ke 2020, salah satu maestro tari itu harus pergi untuk selama-lamanya. Tepatnya pada Minggu (29/12) dini hari, Mbah Prapto meninggal dunia, setelah sebelumnya dikabarkan mengalami gangguan pada jantungnya.

Pagi harinya usai disemayamkan di rumah duka Thiong Ting, Solo, jenazah lantas dibawa ke Taman Budaya Jawa Tengah untuk mendapatkan penghormatan. Di sini rekan sejawat sesama seniman dan budayawan berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir. Dan pada siang harinya jenazah dimakamkan di Taman Memorial Delingan, Kabupaten Karanganyar.

Kepergian Mbah Prapto tentu meninggalkan kenangan tersendiri bagi para penggiat budaya di Kota Solo. Termasuk Wartajoglo.com yang pernah berkesempatan mewawancarai usai pagelaran Srawung Candi tahun 2018.

Halaman:

| 1 | 2 |