Mengungkap Misteri Pesugihan Blorong


WARTAJOGLO, Sukoharjo - Blorong atau ada juga yang menyebut Nyi Blorong, menjadi salah satu mahluk mitologi yang sampai saat ini masih dipercaya keberadaannya.

Mahluk berwujud wanita berbadan ular ini konon dipercaya bisa membantu orang untuk menjadi kaya melalui ritual pesugihan.

Namun demikian, tentu ada konsekuensi berat yang harus ditanggung oleh mereka yang memanfaatkan jasa mahluk gaib ini. Di antaranya mengorbankan anggota keluarga sebagai tumbal.

Blorong juga disebut-sebut kerap muncul dalam wujud manusia untuk mencari calon 'pengikut'.

Tentunya bukan perkara mudah untuk bisa mengetahui apakah sosok yang kita temui adalah blorong atau benar-benar orang.

Terkait hal ini Supardi seorang warga Kecamatan Baki, Sukoharjo menceritakan pengalamannya bertemu mahluk haus darah ini.

Dari yang disampaikannya, kita bisa tahu bagaimana ciri-ciri Blorong yang sedang menyamar jadi manusia.

Sebagai karyawan kontrak di sebuah pabrik tekstil, tentu setiap jelang habis masa kontrak, Supardi harus harap-harap cemas dengan nasibnya.

Pasalnya tidak akan ada yang bisa tahu apakah posisinya sebagai karyawan akan tetap aman, ataukah harus tergusur.

Apalagi di tengah kondisi perusahaan yang belakangan agak menurun omset produksinya. Yang pada akhirnya memaksa perusahaan mengurangi jumlah karyawan secara berkala.

Dan apa yang dikhawatirkan itupun akhirnya benar-benar terjadi. Di akhir tahun 2014 lalu, perusahaan tempatnya bekerja tidak memperpanjang kontrak pria 40 tahunan itu. Padahal dia sudah bekerja lebih dari lima tahun di sana.

Usai di PHK, Supardi pun harus disibukkan dengan aktifitas keluar masuk pabrik untuk mencari pekerjaan baru.

Karena baginya, sebagai kepala rumah tangga dia memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan hal itu tentu hanya bisa terwujud bila dia bekerja.

Sebuah toko kecil di depan rumahnya tentu tidak mampu untuk bisa menopang seluruh kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itulah, di tengah usahanya mencari pekerjaan baru, Supardi mencoba mengadu peruntungan dengan menjadi tukang ojek.

Kebetulan sebelum bekerja di pabrik, Supardi memang pernah bekerja sebagai tukang ojek. Sehingga saat harus menekuni pekerjaan ini lagi, dia tidak mendapatkan kesulitan berarti.

“Saya ngojek sejak tahun 2000an. Saat itu hasilnya masih lumayan, karena belum terlalu banyak orang yang punya sepeda motor. Terus sekitar tahun 2006 saya mulai kerja di pabrik. Dan setelah di PHK ya terpaksa ngojek lagi. Tapi sekarang hasilnya tidak seperti dulu. Orang sudah jarang yang naik ojek. Umumnya mereka sudah bawa sepeda motor sendiri,” ungkap beberapa waktu lalu.

Dan sebagai tukang ojek yang mangkal di sekitar Pasar Daleman, Sukoharjo, Jawa Tengah, rute yang ditempuh Supardi memang tidak terlalu jauh. Paling jauh hanya sampai wilayah Cawas yang masuk Kabupaten Klaten.

Itupun tidak setiap saat ada. Sehingga tentu pendapatan yang diperoleh juga tidak terlalu banyak.

Bahkan tak hanya pendapatan yang sedikit, sebagai tukang ojek, Supardi juga kerap mengalami berbagai kejadian yang tidak menyenangkan. Yang mana beberapa kali Supardi mengaku mendapat penumpang yang ternyata tidak mau membayar.

“Saya beberapa kali mengantar orang, yang kebetulan sedang mabuk, dan saat sampai di rumah tidak mau bayar. Tapi ya untung saja rumahnya tidak terlalu jauh. Dan lagi saya masih bersyukur karena hanya tidak dibayar. Ada teman saya yang malah sampai dirampok. Ya semoga saja saya tidak sampai mengalami kejadian seperti itu,” kenangnya.

Ciri-Ciri Blorong
Namun dari pengalaman buruk yang pernah dialami Supardi, ada satu kejadian yang sampai saat ini terus membekas. Dan bahkan peristiwa itu membuatnya enggan melintas di tempat di mana kejadian itu menimpanya, terutama pada malam hari.

Dikisahkannya, saat itu kebetulan tumpangan sedang sepi. Sehingga Supardi memutuskan untuk memperpanjang waktu mangkalnya hingga jam 12 malam.

Malam yang begitu sepi memang membuat Supardi dan salah seorang rekannya hampir putus asa.

Harapan terakhir mereka hanya pada bus karyawan terakhir yang mengantarkan para karyawan sebuah pabrik tekstil, yang kerja shift sore, yang biasanya akan datang saat jelang pukul 12 malam.

Dan apa yang diharapkan akhirnya datang juga. Dari kejauhan sorot lampu redup dari bus karyawan yang sudah cukup tua itu mulai terlihat.

Lampunya yang redup dan suara mesinnya yang berisik sangat mudah dikenali oleh mereka yang setiap hari melihatnya.

Bus itu pun berhenti di dekat sebuah SPBU dan menurunkan beberapa orang penumpang.

Beberapa orang dengan sepeda motor segera meluncur menghampiri para karyawan yang baru turun dari bus.

Mereka adalah para anggota keluarga karyawan itu, yang memang tiap hari menjemput di tempat bus itu menurunan penumpang.

Karena bus tersebut memang tidak sampai masuk ke wilayah desa yang lebih dalam, sehingga para karyawan hanya diturunkan di jalan utama terdekat dnegan tempat tinggal mereka.

Makanya di tiap waktu kepulangan, para anggota keluarganya akan menunggu di dekat SPBU untuk menjemput mereka.

Saat beberapa karyawan sudah dijemput, masih tersisa empat orang lagi yang tampak, usai bus kembali berjalan.

Insting Supardi dan rekannya segera tahu bahwa mereka butuh tumpangan. Karena itulah mereka segera menghampirinya.

Dan ternyata benar, dua di antaranyapun segera menggunakan jasa Supardi dan rekannya. Sedangkan dua yang lain katanya masih menunggu jemputan.

Supardi mendapat order mengantar ke wilayah Menuran, yang jaraknya sekitar 5 km dari tempatnya mangkal.Sedangkan temannya mendapatkan order mengantar ke wilayah Karangdowo, Klaten.

Supardi sengaja memilih untuk mengantarkan penumpang ke arah Menuran, karena arah itu searah dengan rumahnya. Sehingga dia bisa sekalian pulang.

Pun demikian dengan temannya yang juga memiliki jalan searah dengan arah perjalanan penumpangnya.

Dengan kecepatan yang cukup tinggi karena jalanan sepi, tak sampai lima belas menit Supardi sudah sampai di rumah penumpangnya.

Upah sepuluh ribu rupiah pun diterima sebagai imbalan jasa ojeknya. Dan setelah itu dia pun segera bergegas pergi untuk pulang.

Nah saat pulang itulah, sebuah kejadian aneh dialami Supardi.

Saat melintas di atas jembatan Kuncen dia melihat seorang perempuan tua yang tampak kebingungan.

Perempuan itupun segera melambaikan tangan untuk menghentikan laju sepeda motor Supardi.

Supardi pun segera bertanya siapa orang tua itu, dan kenapa malam-malam berada di tempat tersebut.

Dengan wajah seperti orang bingung, dia menjawab bahwa dia kebingunagn mencari rumahnya, yang katanya di sekitar tempat itu.

“Katanya dia sudah lama tinggal di Jakarta dan barusan naik kereta turun Solo. Terus dari Solo naik bis turun pertigaan Pakis. Dari Pakis katanya naik ojek sampai ke tempat itu. Sama tukang ojeknya dia ditinggal begitu saja karena beberapa kali muter-muter rumahnya tidak ketemu. Makanya saya kasihan, dan kemudian saya ajak pulang, biar besok pagi bisa saya bantu mencari tempat tinggalnya,” kenang Supardi.

Dalam perjalanan pulang, Supardi sempat merasa ada sesuatu yang aneh dengan kondisi perempuan tua itu. Kulitnya terkesan basah dan terasa dingin.

Namun Supardi mencoba menepisnya dengan berpikir bahwa hal itu adalah dampak dari kebingungan dan kepanikan dari orang itu, yang bingung mencari rumahnya.

Sesampai di rumah, Karmiati istrinya sempat kaget karena Supardi membawa pulang orang yang tidak dikenal.

Setelah dijelaskan sebentar, ibu dua orang putra itupun segera mengerti dan mempersilahkan perempuan tua itu masuk.

Perasaan janggal juga langsung menghinggap di hati Karmiati, saat dia melihat ada kilatan cahaya aneh terbersit dari bola mata perempuan itu, hingga membuat bulu kuduk Karmiati berdiri.

Hanya saja Karmiati tidak berani mengutarakannya, karena takut dianggap terlalu berpikir negatif.

Sebuah kasur lipat segera digelar Supardi di ruang tamu rumahnya untuk tempat istirahat perempuan tua yang mengaku bernama Rusminah itu.

Dan setelah sempat menyuguhkan minuman hangat serta berbasa basi sejenak, Supardi pamit untuk beristirahat terlebih dulu.

Rasa kantuk yang begitu berat membuat Supardi langsung terlelap begitu membaringkan tubuhnya.

Namun di tengah tidurnya yang begitu lelap, tiba-tiba dia dikejutkan dnegan suara ayam di kandang sebelah rumahnya yang kelabakan seperti tengah dikejar-kejar sesuatu.

Pesugihan
Dengan rasa kantuk yang masih mencengkeram, Supardi segera bergegas menuju ke arah kandang.

Namun dia dibuat heran karena di dalam kandang tidak ada apa-apa. Dan di tengah keheranannya, matanya menangkap ada sesuatu yang mencurigakan di sudut kandang.

Ada tumpukan kulit ular yang baru terkelupas teronggok di lantai kandang.

Dari ukuran kulit itu, jelas diketahui kalau ularnya berukuran besar, yang tentunya tidak mungkin bisa masuk ke dalam kandang ayam yang berdinding rapat.

Karena itulah, Supardi sangat heran, bagaimana mungkin ada ular sebesar itu bisa masuk. Dan kalaupun masuk, saat ini posisinya berada di mana? Karena tentunya juga tidak mungkin kalau binatang itu bisa keluar dengan mudah.

Cukup lama Supardi berusaha mencari keberadaan ular itu. Tapi karena tidak ditemukan, diapun memutuskan untuk kembali tidur, meski akhirnya tidak bisa tidur karena terus memikirkan ular misterius tersebut.

Sampai akhirnya saat jelang adzan subuh, Supardi baru bisa terlelap lagi.

Jam dinding sudah menunjuk pukul 7.45 pagi, saat Supardi bangun dari tidurnya. Kondisi kurang tidur yang dialami Supardi membuatnya bangun kesiangan.

Dan usai menyeruput secangkir kopi buatan istrinya, dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi.

Supardi memang sudah berjanji akan mengantarkan Rusminah mencari tempat tinggalnya.

Karena itulah dia bergegas mandi agar bisa secepat mungkin mengantar Rusminah pulang. Apalagi perempuan tua itu tampak sudah bersiap-siap.

Rupanya dia sudah mandi sejak lepas subuh, sehingga saat Supardi bangun dia sudah tampak siap berangkat.

Usai mandi, Supardi lantas mengajak Rusminah untuk sarapan. Namun perempuan tua itu menolak dengan alasan sedang puasa.

Sembari menikmati makanannya, Supardi mengajak Rusminah berbincang-bincang. Dan dalam perbincangan itulah, tiba-tiba Supardi dikejutkan dengan ucapan Rusminah, bahwa dia bisa membantu Supardi jadi orang kaya.

“Saat itu tentu saja saya kaget dan sempat berhenti makan, guna mendengarkan kembali kata-katanya. Bagaimana tidak, dengan kondisi perekonomian seperti ini, siapa orang yang tidak ingin jadi kaya. Makanya saya pun langsung antusias menanggapi kata-katanya,” terang Supardi.

Rusminah tahu kalau Supardi mulai penasaran, karena itu dia segera melanjutkan kata-katanya.

Menurutnya untuk bisa jadi orang kaya, Supardi cukup memberikan jago miliknya kepada Rusminah.

“Saat itu dia minta jago. Dan karena kebetulan saya punya beberapa ayam jago, sayapun menyanggupi permintaannya,” sambungnya.

Supardi dibuat kaget, karena Rusminah menolak ayam jago tawarannya. Dan Rusminah menyebut bahwa jago yang dimaksud bukanlah ayam, tapi jago yang lainnya.

Tentu saja jawaban itu membuat Supardi bingung. Ditatapnya dalam-dalam mata Rusminah guna mengungkap rahasia apa yang disembunyikan perempuan tua itu.

Namun saat itulah tiba-tiba dia merasakan ada perasaan aneh yang menyelimuti tubuhnya.

Bulu kuduknya langsung merinding setelah melihat senyuman aneh dari bibir Rusminah. Karena itulah dia memutuskan untuk segera mengantarkan perempuan itu.

Dengan sepeda motor miliknya, Rusminah kemudian diboncengkan menuju ke tempat di mana dia ditemukan.

Saat melintas di atas Jembatan Kuncen tiba-tiba Supardi dibuat terkejut karena mendengar ada seperti suara benda tercebur ke dalam sungai.

Suara yang begitu keras, membuat Supardi penasaran dan mencoba melongok ke bawah jembatan.

Namun belum sempat dia menepi, lagi-lagi dia dibuat terkejut karena ternyata Rusminah sudah tidak ada di atas sepeda motornya.

Dia pun khawatir kalau perempuan tua itu terjatuh dan masuk ke dalam sungai. Karena itu dia segera melongok ke bawah untuk memastikan.

Darah Supardi langsung berdesir dengan bulu kuduk berdiri saat matanya melihat sosok Rusminah sudah berada di dalam air dengan wujud yang menyeramkan.

Dia melihat Rusminah berenang denga  tubuh bagian bawah berwujud ular.

Setelah sempat menengok ke arah Supardi, tubuh Rusminah langsung hilang begitu melewati rimbunnya akar pohon bambu yang tumbuh di sepanjang tepi sungai.

Supardi pun langsung menyadari bahwa orang yang ditolongnya adalah perwujudan mahluk gaib berjenis Blorong.

Kontan saja Supardi langsung memacu sepeda motor miliknya pulang ke rumah.

Sesampai di rumah dia langsung bercerita kepada Karmiati istrinya, yang sebenarnya sudah merasakan ada hal yang tidak beres dengan sosok Rusminah.

Dari perbincangan dengan istrinya itu pula, akhirnya Supardi tahu makna jago yang diminta oleh Rusminah. Jago di sini memang bukan ayam jago, melainkan anak-anak Supardi, yang memang akan menjadi ‘jago’ dalam keluarganya kelak.

Dan bisa dipastikan bahwa jago-jago itu nantinya akan dijadikan tumbal dalam laku pesugihan yang ditawarkan.

Hal itu tentu saja tidak bisa diterima Supardi. Karena dia tidak mau hanya demi kemewahan dan kesenangan sesaat, harus mengorbankan anak-anaknya.

Baginya dia bekerja keras adalah demi untuk mencarikan nafkah buat keluarganya terutama anak-anaknya.Jadi bagaimana mungkin dia akan mengorbankan mereka

“Untung saja saya tidak mau memenuhi keinginannya. Kalau saja saat itu saya terus mengejar dan mengatakan sanggup, mungkin saat ini saya memang akan jadi kaya. Tapi tentu saya tidak akan bisa berkumpul dengan anak-anak tercinta. Karena anak-anak saya akn jadi tumbal Blorong itu.  Dan buat apa harta berlimpah, kalau tidak dinikmati bersama anak-anak,” pungkas Supardi. //Rad