Jadi Sosok Pilihan Bumi, Dahlan Iskan Terima Penghargaan Karya Sastra Ayat Bhuwana

Dahlan Iskan menerima penghargaan dari LPK
Dahlan Iskan (kiri) menerima penghargaan dari Ketua LPKI Eko Galgendu
 

WARTAJOGLO, Jakarta - Dipandang memiliki kontribusi besar pada negeri ini, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan diberi penghargaan Karya Sastra Ayat Bhuwana. Penghargaan diserahkan oleh Duta Ayat Bhuwana yang bernama Eko Sriyanto Galgendu, di Gedung Lembaga Penghayat Kepercayaan (LPK) Indonesia, Jakarta Selasa (2/3) siang.

Karya Sastra Ayat Bhuwana sendiri merupakan wujud penghormatan bumi atau buana terhadap putra-putri yang memiliki catatan sangat khusus. Dan sosok Dahlan Iskan dipandang sangat pantas menerima penghargaan itu atas kiprahnya selama ini.

Penghargaan itu sendiri sedianya akan diserahkan pada saat Dahlan Iskan masih menjabat sebagai Menteri BUMN. Hanya saja karena situasi belum memungkinkan, Eko belum bisa bertemu dan menyerahkannya. Sampai akhirnya kesempatan itu datang saat keduanya didaulat sebagai pembicara, dalam acara diskusi bertema Vaksin Nusantara. Yang digagas oleh Beranda Ruang Diskusi beberapa hari lalu.

“Kami menghaturkan dan mempersembahkan Karya Sastra Ayat Bhuwana kepada Pak Dahlan Iskan, saat itu selaku menteri BUMN,” jelas Eko melalui aplikasi pengiriman pesan Whatsapp. 

Eko menjelaskan, bhuwana atau alam bumi mempunyai hak terhadap manusia. Sejatinya manusia diciptakan dari tanah, maka itu bumi menulis memberikan nama kepada setiap anak manusia, yang terpilih dan dipilih.

“Untuk Pak Dahlan Iskan sendiri, beliau mendapatkan sastra bhuwana dengan kata sandi aksara TUGAS,” katanya.

Kalimat Tugas diberikan karena saat itu Dahlan Iskan sedang menjabat menteri BUMN yang memikul suatu kewajiban. Namun kata TUGAS sendiri memiliki makna di tiap hurufnya. Yakni, huruf pertama T merupakan tanggap, artinya tepat memahami situasi dan kondisi.

Sementara huruf U sama merupakan usaha, berusaha serta bekerja keras. Huruf ketiga G adalah gegana menjaga tatanan dan garis aturan.

“Selanjutnya A adalah amanat berpedoman pada tugas serta kewajiban. Terakhir S atau Setya dalam janji dan pengertian,” jelas Eko.

Plakat penghargaan berwujud mirip gunungan wayang itu sendiri sudah dibuat oleh Eko sejak 28 Oktober 2012. Pembuatannya diserahkan ke pengrajin tembaga di Boyolali, dengan waktu pembuatan sekitar satu bulan. 

“Pembuatannya kurang lebih sebulan. Karena itu karya tangan, diukir, di dalamnya ada lampunya. Adapun, makna dari bentuk gunungan itu merupakan simbol alam semesta. Yang mana di dalamnya terkandung kehidupan manusia, semangat, tahta serta kepemimpinan,” pungkas Eko yang juga ketua umum Lembaga Penghayat Kepercayaan (LPK) Indonesia.//Sik