Bernostalgia di Atas Kereta Uap Peninggalan Mangkunegara


Sensasi menikmati masa lalu begitu terasa, saat menyusuri komplek Pabrik Gula Tasikmadu dengan kereta uap.



UAP panas dari tungku di dalam kabin lokomotif uap Spoor Sakarosa, memaksa Suparno untuk berkaki-kali menyeka keringat yang bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Namun hal itu tak sedikitpun menyurutkan semangat pria 60 tahunan itu untuk terus memacu laju kereta. Untuk mengantar para pengunjung menikmati setiap sudut pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah. 

Bersamaan dengan masa liburan sekolah beberapa waktu lalu, jumlah pengunjung di agrowisata Sondokoro, Tasikmadu, Karanganyar, memang meningkat. Dan ini tentu saja membuat para masinis kereta api uap seperti Suparno menjadi lebih sibuk. Karena jumlah pengunjung yang akan menumpang kereta-kereta kuno di sinipun meningkat. 

Ya, kereta uap kuno memang menjadi salah satu andalan dari obyek wisata yang berada di komplek pabrik gula Tasikmadu ini. Dengan naik kereta uap ini, maka pengunjung bisa berkeliling ke sudut-sudut komplek pabrik gula yang didirikan pada 1871 oleh pemimpin Keraton Mangkunegara, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara IV tersebut. 

Dengan luas area pabrik yang mencapai lebih dari 28 hektar, para pengunjung bisa puas menikmati suasana lain yang tidak ditemui di tempat-tempat wisata yang umum. Sebab di sana para pengunjung akan disuguhi pemandangan bangunan-bangunan pabrik lengkap dengan berbagai perlengkapan yang digunakan. Yang kadang tak lepas dari nuansa mistis karena usianya yang sudah sangat tua. 

Di komplek agrowisata Sondokoro ini sendiri dioperasikan tiga rangkaian kereta untuk mengelilingi seluruh komplek pabrik gula. Di mana masing-masing memiliki jalur yang berbeda, untuk bisa menunjukkan beberapa sudut yang berbeda kepada para pengunjung. Sehingga bila para pengunjung ingin melihat seluruh komplek pabrik gula tersebut, maka mereka bisa bergantian naik tiga rangkaian kereta itu.

“Di sini ada tiga rangkaian kereta. Dua kereta uap yang kita beri nama Spoor Sakarosa dan Spoor Tebu. Dan satu lagi kereta disel yang kita beri nama Spoor Gula. Ketiganya memiliki jalur yang berbeda, dengan daya tarik yang berbeda pula. Untuk spoor Sakarosa, pengunjung akan dibawa menyusuri sebuah terowongan sebelum masuk ke komplek pabrik. Lalu untuk Spoor Gula, pengunjung bisa melihat deretan komplek kantor pengelola pabrik. Sementara untuk spoor tebu, para pengunjung akan dibawa menyusuri komplek tempat penampungan tebu-tebu yang siap digiling,” jelas Teguh Sinung Nugroho, humas Agrowisata Sondokoro.

Eksotik
Tak hanya menikmati keangkeran bangunan tua pabrik gula. Di saat bersaman dengan musim giling, para pengunjung juga disuguhi pemandangan kesibukan para pegawai pabrik, yang sedang melakukan proses produksi gula. Akan terlihat bagaimana para pegawai itu bergulat dengan mesin-mesin raksasa pengolah tebu, yang sudah berusia ratusan tahun.

“Saat masuk musim giling, kita juga membuka paket wisata menyaksikan proses giling tebu. Dan pada saat itu, para penumpang kereta juga bisa melihat kesibukan para pekerja. Karena mesin-mesin pabrik ini bisa dilihat dnegan jelas dari jalur kereta yang melintasinya,” sambung pria yang akrab dipanggil Sinung ini.
Pemandangan dari jendela lokomotif
Namun lepas dari pemandangan yang disuguhkan, berjalan-jalan menaiki kereta uap kuno ini saja sudah sangat menyenangkan. Karena tentu ada sensasi tersendiri yang jarang bisa ditemui di tempat lain. Di mana kita seolah dibawa kembali ke masa lalu, saat teknologi transportasi belum semaju saat ini.

Ya, kereta yang rata-rata dibuat pada awal 1900 an itu memang hanya mampu berjalan tak lebih dari 40 km per jam. Sehingga para penumpang bisa menikmati perjalanan, sembari menyaksikan pemandangan hamparan lahan tebu yang baru tumbuh di sekitar pabrik, dengan lebih puas. 

Lokomotif kuno ini sendiri dulunya adalah lokomotif penarik kereta lori pembawa tebu. Namun seiring berjalannya waktu, perannya sudah mulai tergantikan oleh truk, yang bisa membawa tebu dari tempat yang jauh dengan lebih cepat. Sehingga beberapa di antaranya seringkali tidak beroperasi.

Karena itulah pada tahun 2005 terbersit ide di kalangan direksi pabrik gula untuk mengembangkan obyek wisata dengan memanfaatkan lokomotif-lokomotif tersebut. Dan ternyata hal itu mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Sehingga tingkat kunjungan ke obyek wisata ini juga cukup tinggi.
Suparno saat mengendalikan laju kereta uap
Dengan bahan bakar berupa kayu, tenaga yang dihasilkan kereta uap ini memang tidak terlalu besar. Sehingga laju kecepatannya juga tidak terlalu tinggi. Karena itulah kereta ini dipandang cocok untuk dijadikan sebagi kereta wisata. 

“Kalau kereta ini kan dulunya untuk menarik lori. Jadi memang mesinnya tidak terlalu besar. Beda dengan kereta uap untuk penumpang, yang didesain untuk jalur dan muatan berat. Karena itulah, untuk bahan bakarnya, kita bisa memakai bermacam jenis kayu. Tidak seperti kereta uap penumpang yang di Stasiun Ambarawa. Di sana bahan bakarnya harus kayu jati, supaya panasnya stabil. Sehingga tenaga yang dihasilkan besar,” ujar Suparno yang mengemudikan lokomotif Spoor Sakarosa buatan Jerman tahun 1908.

Suparno sendiri sudah mengabdi di pabrik gula sejak 1990, sebagai masinis kereta uap. Karena itulah, pria asal Karanganyar ini sudah snagat paham dengan seluk beluk mesin kereta uap. Termasuk mesin spoor sacarossa yang dikemudikannya. 

“Kereta uap itu sebenarnya perawatannya sangat gampang, jauh lebih gampang disbanding diesel. Sebab kalau ada yang rusak, kadang kita bisa buat sendiri. Beda dengan diesel yang ada system elektroniknya. Yang mana bila rusak, otomatis kita harus membeli sparepart baru yang kadang sudah susah ditemukan,” papar Suparno yang kesehariannya dibantu Suprapto rekannya, yang berperan sebagai stoker.

Stoker atau orang yang bertugas memasukkan kayu bakar ke tungku memiliki peran yang tak kalah vital dengan masinis, dalam sebuah perjalanan kereta uap. Karena di tangan stoker inilah nasib dari perjalanan kereta itu digantungkan. Di mana pasokan tenaga pada lokomotif itu, sangat tergantung pada pasokan kayu bakar yang diberikan oleh seorang stoker. 
Stoker memasukkan kayu bakar ke dalam tungku untuk menjaga kereta agar terus melaju

Pun demikian yang terlihat pada Spoor Sakarossa. Di mana setiap saat Suprapto terlihat membuka penutup tungku untuk memasukkan batangan-batangan kayu sengon yang diangkut di belakang lokomotif. Kobaran api tampak menjilat-jilat menebar hawa panas ke seluruh ruangan kabin lokomotif, tiap kali Suprapto memasukkan kayu ke dalam tungku itu. Bahkan tak jarang tangannya harus mengalami luka bakar ringan, karena begitu besarnya jilatan api yang berkobar. 

Namun hal itu bukan masalah bagi Suprapto yang sudah mengabdi sejak Agrowisata Sondokoro dibuka. Karena baginya, pelayanan kepada para pengunjung adalah yang utama. Sehingga rasa panas di telapak tangan yang setiap kali dirasakan, seolah diabaikan, demi tetap melajunya Spoor Sakarossa. //Rad