Haul Joko Tingkir dan Penguatan Eksistensi Keraton Pajang


Peringatan haul Joko Tingkir digelar Keraton Pajang, sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi budaya

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Jelang usianya yang ke-11, Keraton Kasultanan Pajang pimpinan KRA Suradi Joyonagori semakin menguatkan eksistensinya. Hal itu ditandai dengan pelaksanaan haul Joko Tingkir, yang digelar pada Minggu (9/2) pagi. 

Peringatan haul tokoh pendiri Kerajaan Pajang 4 abad yang lalu itu, memang dipandang sebagai langkah maju untuk keraton yang dipimpin Suradi. Sebab di tengah banyaknya keraton-keraton baru yang muncul dengan segala permasalahan hukumnya, Keraton Pajang terus melenggang untuk menjalankan visi misi pelestarian budaya.

Haul memang menjadi sebuah kegiatan budaya yang biasa dilaksanakan masyarakat, untuk memperingati hari meninggalnya seseorang. Sehingga dengan peringatan haul itu, maka akan terjalin kedekatan emosional dengan sosok yang diperingati.

Demikian juga dengan Suradi yang bergelar Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV. Peringatan haul Joko Tingkir ini akan semakin menguatkan ikatan batin dirinya dengan sang tokoh. Sehingga langkahnya untuk membesarkan kembali Keraton Pajang, bisa semakin mudah.

Sultan Pajang (kiri) bersama penasihatnya Andi Budi Sulistijanto dalam acara jumpa pers

"Dalam sejarahnya, Kerajaan Pajang adalah kerajaan Islam. Dan Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir juga beragama Islam. Karena itu haul ini juga diisi dengan serangkaian kegiatan keagamaan. Yakni shalawatan, pengajian serta ziarah ke makam Joko Tingkir," jelas Andi Budi Sulistijanto, Penasihat Keraton Pajang dalam acara jumpa media, Sabtu (8/1) siang, di komplek keraton tersebut.

Andi yang juga anggota Lakpesdam  (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia ) PBNU ini mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh Keraton Pajang sejalan dengan visi misi Nahdlatul Ulama (NU). Yang mana dalam syiarnya juga diiringi dengan pelestarian budaya. Karenanya dia menyebut bahwa acara haul Joko Tingkir ini, juga mendapat restu dari para kiai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

BACA JUGA:

"Demi aSelama kegiatan itu tidak menyimpang dari syariat dan memiliki semangat pelestarian tradisi budaya, hal itu pasti akan mendapat restu dari para kiai NU. Demikian juga dengan haul Jaka Tingkir ini. Yang rangkaian acaranya merupakan bagian dari tradisi NU, seperti shalawatan serta ziarah," lanjut Andi.

Acara haul Joko Tingkir di Keraton Pajang memang diisi shalawatan dari para santri pondok pesantren (Ponpes) Ad-Dhuha, Solo pada pagi harinya. Lalu siangnya dilanjutkan dengan ziarah ke makam Jaka Tingkir di Desa Butuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. 

Makam Joko Tingkir di Desa Butuh

Pada acara ziarah ini, Sultan Pajang berangkat dengan diiringi para sentana. Selain berdoa di makam Joko Tingkir, rombongan juga ziarah ke makam Ki Ageng Butuh, yang makamnya berada dalam satu komplek dengan makam Joko Tingkir. 

Ki Ageng Butuh atau yang juga dikenal dengan nama Kebo Kenongo adalah ayah dari Joko Tingkir. Dia termasuk salah seorang pengikut Syeh Siti Jenar dan dikenal memiliki kemampuan spiritual sangat tinggi. Karena itulah dia bisa mengetahui kalau Joko Tingkir akan menjadi raja besar di Pajang, menggantikan pemerintahan Demak. 

Makamnya di Desa Butuh pun banyak dikunjungi para peziarah yang ingin berburu berkah. Umumnya mereka yang datang adalah orang-orang yang ingin mendapatkan jabatan. Baik itu calon bupati maupun calon anggota dewan. //sik