Tidak Gelar Tingalan Jumenengan di Tahun ke-12. Ini Penjelasan Sultan Pajang


Karena situasi yang tidak memungkinkan, Keraton Pajang memutuskan tidak menggelar acara tingalan jumenengan pada tahun ini

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Gerimis yang sempat mengguyur, menyisakan udara dingin di kawasan Pajang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Selasa (3/3) malam. Namun demikian hal itu tidak mengurangi antusiasme para santri dari Pondok Pesantren ad Dhuha, Gentan, untuk terus mengumandangkan shalawat serta puji-pujian di dalam Masjid Agung Surojiwan, yang berada di dalam komplek Keraton Pajang. 

Ya, bersamaan dengan peringatan kenaikan tahta sang pemimpin keraton, di tempat ini digelar acara pengajian serta shalawatan. Ratusan santri dilibatkan untuk ikut menyemarakkan peringatan tahun ke-12 penobatan Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV, sebagai pemimpin di Keraton Pajang.

Acara ini terbilang yang pertama sejak keraton itu berdiri pada 2008 lalu. Sebab seperti tahun-tahun sebelumnya, di tiap peringatan kenaikan tahta atau yang disebut dengan tingalan jumenengan, selalu digelar acara yang sangat meriah. Yang berupa rangkaian prosesi adat, seperti kirab hingga pemberian gelar kepada para tokoh yag terpilih.


Namun untuk tahun ini semua terpaksa ditiadakan. Keterbatasan dana menjadi alasan utama dari pihak keraton, sehingga tidak bisa menggelar acara tahunan itu. yang mana hal ini tidak bisa dipungkiri sebagai imbas dari fenomena munculnya keraton-keraton abal-abal beberapa waktu lalu. Sehingga memberi dampak yang sangat signifikan pada keraton untuk bisa menggalang dana.

“Untuk tahun ini kita memang sengaja tidak mengadakan tingalan jumenengan. Acaranya diganti dengan syukuran,yang diisi dengan pengajian dan shalawatan. Sebab kita ingin mencoba meredam gejolak yang belakangan muncul, dan menyoroti Keraton Pajang. Sebagai imbas dari munculnya keraton-keratonan beberapa waktu lalu,” ujar Sultan Pajang saat ditemui WartaJoglo.com sehari sebelum pelaksanaan acara.

Keraton Pajang memang menjadi salah satu yang disorot usai munculnya Keraton Agung Sejagad, Sunda Emperor dan yang lainnya. Karena itulah meski sudah memiliki badan hukum yang kuat sebagai sebuah yayasan, tak ayal banyak pihak yang mempertanyakan kembali keberadaan keraton ini. Terutama dari Keraton Surakarta Hadiningrat, sebagai salah satu keraton yang diakui secara resmi oleh pemerintah, dan berada dalam satu wilayah yang sama dengan Pajang.

Acara syukuran di Keraton Pajang dalam rangka tingalan jumenengan

Pihak Keraton Surakarta Hadiningrat sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan Keraton Pajang. Terlebih selama ini Pajang selalu mendengung-dengungkan semangat pelestarian budaya. Namun satu hal yang selalu ditekankan sejak awal berdirinya keraton ini, bahwa jangan sampai ada acara tingalan jumenengan. Sebab sejatinya bagi Keraton Surakarta, Pajang dalam konteks kerajaan sudah tidak ada. Sehingga otomatis juga tidak ada lagi raja yang berkuasa di sana. 

Tingalan jumenengan sendiri memang menjadi momen istimewa bagi seorang raja. Di mana selain memperingati saat di mana dia pertama kali diangkat dan menduduki tahta, dalam momen inilah eksistensinya sebagi seorang raja akan benar-benar terlihat secara riil. Sebab dalam rangkaian prosesi acara ini, dia akan duduk di atas singgahsana dengan dikelilingi para sentana dan abdi dalem serta prajurit. Tak ketinggalan pula para tamu undangan dari kalangan pejabat maupun pemimpin kerajaan tetangga, akan datang untuk mengikuti acara ini.

Sebuah hiburan khusus berupa tari bedaya juga digelar di hadapan raja dan para tamu undangan. Tarian khusus yang diyakini memiliki kesakralan tertentu, yang bisa meningkatkan energy spiritual sang raja. Sehingga tak boleh ada sepatah katapun yang terucap dari semua yang hadir, saat tarian ini dipersembahkan.

Dan momen yang tak kalah penting adalah pemberian gelar kehormatan atau kenaikan pangkat kepada para abdi dalem, sentana dalem ataupun tokoh-tokoh tertentu yang dipandang memiliki jasa pada keraton. Yang mana tak jarang mereka banyak yang berasal dari luar negeri, dalam hal ini Malaysia, karena dipandang memiliki keterkaitan budaya dan histori yang sama. 

Kegiatan shalawatan di Masjid Agung Surojiwan

“Saya tidak ingin memperpanjang polemik dengan Keraton (Surakarta Hadiningrat). Yang katanya di Pajang tidak boleh ada tingalan jumenengan. Ya sudah, untuk tahun ini kita tidak mengadakan. Apalagi kebetulan kita juga sedang kesulitan dana. Jadi tingalan jumenengan kita ganti dengan syukuran sederhana,” pungkas Sultan Pajang yang bernama asli Suradi ini.

Prosesi syukuran dimulai dengan masuknya Sultan Pajang bersama sang permaisuri, ke dalam Gedung Agung Kedaton. Di belakangnya tampak mengiringi beberapa tamu undangan, termasuk para pengisi acara shalawatan. Mereka lantas berkumpul untuk mengikuti prosesi potong tumpeng, yang sebelumnya telah didoai oleh seorang abdi dalem, dengan mantra berbahasa Jawa. 

Usai syukuran acara dilanjut dengan shalawatan dan pengajian di Masjid Agung Surojiwan. Seorang ustad dari Ponpes Ad Dhuha didaulat sebagai penceramah dalam acara ini.//sik