Harapan Persatuan di Peringatan Berdirinya Keraton Surakarta ke - 275

 


Momentum peringatan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat diikuti dengan harapan terwujudnya kembali kerukunan antar kerabat keraton

WARTAJOGLO, Solo - Bacaan shalawat dan puji-pujian dalam bahasa Jawa terdengar menggema di Sasana Sumewa Pagelaran Keraton Surakarta Hadiningrat. Ratusan abdi dalem dan sentono tampak khusyu, ikut melafalkan setiap bacaan yang dipimpin oleh para ulama keraton. 

Ya, bertepatan dengan tanggal 17 Suro 1954 yang jatuh pada hari Sabtu, 5 September 2020. Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar upacara pengetan hangadeging atau peringatan berdirinya keraton. 

Acara ini digelar oleh Lembaga Dewan Adat di Sasana Sumewa Pagelaran Keraton Surakarta Hadiningrat, dan diikuti oleh ratusan abdi dalem seeta sentono yang berasal dari berbagai wilayah. GKR Koes Moertiyah selaku ketua Lembaga Dewan Adat mengatakan bahwa sedianya pihaknya akan menggelar acara yang lebih besar. Namun karena terbentur pandemi corona, maka acara dibuat dengan lebih sederhana. 

Baca Juga:

Revitalisasi untuk Jaga Energi Spiritual Pesanggrahan Langenharjo

"Sebenarnya kami ingin seminggu sebelumnya ada perayaan. Tapi karena situasi belum memungkinkan akibat pandemi. Jadi kami gelar upacara yang sederhana aja," ujar wanita yang juga akrab disapa Gusti Moeng ini. 

GKR. Koes Moertiyah

Upacara adat yang memperingati berdirinya keraton usai perpindahan dari wilayah Kartasura pada 275 tahun yang llau itu memang menjadi momen penting. Sebab dalam sejarah disebutkan, bahwa usai kepindahan ini, Keraton Surakarta akhirnya terus berkembang maju. Meski pada akhirnya sempat terpecah akibat perjannian Giyanti dan Salatiga. Namun setidaknya tidak ada lagi perpindahan wilayah, dari penerus kerajaan Mataram Islam itu. 

Baca Juga:

Mewujudkan Perdamaian Dunia dengan Hari Etika Timur

Beragam sesaji tampak disiapkan sebagai pelengkap dalam upacara tersebut. Termasuk yang tak pernah ketinggalan adalah jenang atau bubur Suran. 

Beragam sesaji termasuk jenang suran disediakan dan didoakan para ulama keraton 

Makanan yang satu ini memang menjadi makanan wajib dalam tiap penyelenggaraan upacara peringatan berdirinya keraton. Sebab makanan ini merupakan simbol doa dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua berkah yang dilimpahkan. Sehingga diharapkan di waktu-waktu ke depan, berkah itu senantiasa terlimpah, demi kesejahteraan keraton dan seluruh masyarakat Surakarta. 

"Harapan utama kita tentu bisa rukun dan bersatu kembali seperti dulu. Sehingga kita bisa bersama-sama merawat dan membangun keraton. Makanya dengan adanya keputusan Mahkamah Agung kemarin, ke depannya kita akan lakukan komunikasi lebih lanjut dengan pemerintah jntuk menjelaskan masalah yang sebenarnya. Sehingga ke depan bisa membantu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada," lannut Gusti Moeng. 

Konflik internal berkepanjangan di dalam tubuh para kerabat keraton, memang menyebabkan keterpurukan pada salah satu kerajaan yang masih eksis di negeri ini. Dengan perpecahan itu, akhirnya masing-masing pihak selalu menggelar acara tersendiri dalam momen-momen peringatan hari tertentu. Termasuk dalam peringatan berdirinya keraton kemarin. Di mana Sinubun Paku Buwono XIII juga menggelar acara yang sama di dalam keraton, bersama para pendukungnya. //sik

Video terkait: